Selasa, 03 Mei 2011

Belajar dari Rasulullah saw

Bercermin dengan kehidupan Rasulullah saw, banyak sekali pelajaran tentang sifat tawadhu beliau yang dapat kita jadikan panutan, di antaranya:


- Jika beliau berpapasan dengan anak kecil atau orang yang lebih muda, beliau tidak segan dan sungkan untuk memulai mengucapkan salam.


- Beliau tidak menepis tangan seorang budak yang menarik tangan beliau.

- Jika beliau makan, beliau tidak sungkan untuk membersihkan jari jemarinya dengan bibirnya.


- Jika sedang berada di rumah, beliau tidak sungkan membantu pekerjaan rumah istrinya.


-Beliau tidak pernah menyimpan dan membalas dendam.


- Beliau biasa menjahit sandal dan sepatunya sendiri, memerah susu kambing untuk keluarganya, menggiring ternaknya, makan bersama para pembantunya, duduk bersama orang-orang miskin, membantu para janda dan anak-anak yatim, senantiasa mengucapkan salam terlebih dahulu kepada siapa saja yang ditemuinya, memenuhi undangan yang berikan kepadanya, walaupun bukan berasal dari orang terpandang .


- Beliau adalah sosok yang santun, berperilaku baik, bertabiat mulia, pandai bergaul, ramah, murah senyum, rendah hati namun tidak hina, dermawan namun tidak royal, lembut hatinya, pengasih terhadap kaum muslim, senantiasa merangkul kaum mukminin, baik hati dan tidak angkuh.


- Beliau senantiasa mengunjungi orang sakit, menyaksikan jenazah, tunggangan sederhana (keledai), dan memenuhi undangan walau yang mengundang sekelas budak.


- Dan para hari perang Quraizhah, tunggangan beliau hanyalah keledai yang moncongnya di ikat dengan tali kekang terbuat dari serabut, dan pelana yang beliau duduki pun terbuat dari anyaman serabut”.[1] riwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata: “Suatu ketika Nabi saw mendapatkan undangan untuk hadir dalam sebuah jamuan roti yang terbuat dari gandum, dan roti-roti tersebut sudah berbau apek. Meski demikian, beliau tetap memenuhi undangan itu. Beliau memiliki sebuah baju besi yang tergadai pada seorang Yahudi, namun hingga beliau wafat beliau tidak memiliki cukup uang untuk menebusnya kembali” (HR At-Turmudzi). [1] Madariju As-Salikin, hal 341. Lihat juga : Asy-Syamail Al-Muhammadiyah karangan At-Turmudzi, hal 284 dst. Dalam sirah kehidupan Rasulullah saw banyak sekali aplikasi sikap hidup yang tawadhu dan akhlak mulia yang patut kita contoh.


Contoh lain yang menggambarkan sifat tawadhu’ Rasulullah adalah kisah yang dituturkan oleh Anas ra: “Beliau pernah diberi kurma yang ada ulatnya. Lalu beliau menghembus-hembus buah kurma tersebut hingga ngengat buah yang ada di dalamnya keluar”[2] Shahihu Al-Jami’, 1/271


Rasulullah saw berdoa: “Ya Allah hidupkan aku dalam kondisi miskin dan matikan aku dalam kondisi miskin, dan bangkitkan aku bersama orang-orang miskin” [3] Al-Ihya’, 3/361


Ibnu Al-Atsir menjelaskan: “Doa tersebut beliau maksudkan sebagai perwujudan sikap tawadhu dan merendahkan diri di hadapan Allah. Dan dijauhkan dari sifat angkuh dan semena-mena”.[4] Madariju As-Salikin, hal. 344


Dalam hal ini Aisyah menyatakan: “Salah satu ibadah utama yang kerap kalian lalaikan adalah sikap tawadhu’.[5]HR al-Bukhari


Hamdun Al-Qasshar menjelaskan mengenai defenisi tawadhu’, yaitu: “menghindari sikap yang membuat orang lain seolah merasa butuh pada anda, baik itu dalam urusan agama maupun urusan dunia”.[6] Diriwayatkan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani.


Tatkala al-Fudhail bin Iyadh ditanya tentang tawadhu’ beliau menjawab dengan sebuah pengertian: “Tawadhu itu, tunduk pada kebenaran dan mau menerima kebenaran itu dari siapapun yang mengungkapkannya”.

Ada pula yang mengatakan: “Jangan nampakkan diri anda terhormat atau berharga. Jika masih bersikap demikian, maka anda belum bertawadhu’”.

Ada pula yang mengatakan: “Tawadhu itu bersikap ramah dan lemah lembut”.

Yang lain menyebutkan: “Tawadhu adalah tidak menampakkan diri sebagai orang yang berkedudukan atau lebih baik dari yang lainnya”.

Sedangkan menurut Ibnu Athaillah: “Tawadhu’ itu menerima kebenaran dari siapapun. Kemuliaan itu terdapat dalam sikap tawadhu’. Siapa yang mencarinya dalam keangkuhan ibarat mencari air dalam kobaran api”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar